Enrekang

Voting menghantar kami pada keputusan untuk meninggalkan Bukit Labaja dan meneruskan perjalanan ke Enrekang daripada menginap semalam lagi di Labaja. Cukup sulit pengambilan keputusan kali ini, karena pada pagi ini kami menemukan lubang air yang sempurna buat mandi dan cuci. (Kami semua mandi dengan bahagia pagi itu).

(Sarapan pagi di Buludua, kitaran Labaja, gogos atau lontong ketan gurih yang dimakan bersama ayam goreng dan sambal)

Tidak ada tujuan khusus di Enrekang, kami hanya akan transit semalam demi rasio jarak tempuh yang nyaman.

Namun, siapa nyana, Enrekang menjadi sangat istimewa. Semua karena Arif Iman Santosa dan keluarga. Mas Arif yang asli Kendal, bersekolah di Bandung, dan beristrikan asli Enrekang, adalah rekan kerja Ista sejak tahun 2014. Ia fasih berbahasa Sunda, dan mendapat nama julukan Kasep di kantor. Sebelum beranjak dari Labaja, Ista sudah berkirim pesan dengan Mas Kasep, yang dengan senang hati mencarikan penginapan sederhana untuk kami.

Perjalanan menuju Enrekang kami tempuh dalam waktu 5 jam, dengan menembus panas super terik dan hujan super lebat. Kuyup hingga usus, kami tiba di penginapan dengan disambut oleh Mas Kasep … dan gehu serta pisang goreng panas! Subhanallah, saudara-saudara!

Belum cukup berkah hari ini, masih ada undangan makan malam di kediaman Mas Kasep dengan menu khas Enrekang.

(Panganan istimewa kami malam itu)

Di atas meja sudah tersusun formasi lengkap: dangke (keju lokal dari susu kerbau dgn bantuan enzym pepaya), gulai ayam kampung, kalio sapi, mujair goreng kering, cah kangkung, nasi ketan, nasi putih, lanjut kopi dan teh pekat denguan barongko atau pepes pisang gurih. Di tengah perjamuan, Mas Kasep mengutarakan keistimewaan masyarakat Enrekang: meski secara akar budaya lebih dekat dengan Bugis, masyarakat Enrekang lebih nyaman menyebut diri mereka sebagai orang Enrekang. Sifat masyarakat Enrekang pun sedikit berbeda dengan orang Bugis yang terkenal sangat senang membanggakan asal usulnya. Bagi masyarakat Enrekang, dimana langit dijunjung, disanalah bumi dipijak.

(Arif Iman Santosa dan keluarga)

Kesempatan makan di rumah warga adalah pengalaman yang sangat berharga, karena di sana jiwa alias kultur dapur lokal lebih menguar. Namun terutama, kami merasa sangat bahagia dengan sambutan dan kehangatan Mas Kasep sekeuarga, yang satu ini sungguh tak terkira harganya.

Sekali lagi, klien puas, klien senang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s